Perum Bulog Cabang Natuna, Kepulauan Riau, mencatat penyaluran beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) melonjak dari 579 ton pada 2025 menjadi 1.017 ton sepanjang 2026. Angka tersebut merupakan data Januari hingga awal Oktober 2026 dan diperkirakan terus bertambah hingga Desember. Kenaikan ini ditopang kontribusi mitra rumah pangan yang mendominasi penyaluran dengan porsi mencapai 80 persen.
NATUNA — Pemimpin Perum Bulog Cabang Natuna Pencius Siburian menyatakan lonjakan penyaluran SPHP terlihat dari data awal Oktober yang menunjukkan penambahan hampir dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Pihaknya memperkirakan volume penyaluran masih akan bertambah seiring berjalannya sisa tahun 2026.
Penyaluran beras SPHP di kabupaten perbatasan itu dilakukan melalui mitra serta kegiatan gerakan pangan murah dan operasi pasar murah. Kontribusi mitra rumah pangan atau RPK tercatat mendominasi dengan porsi hingga 80 persen dari total penyaluran.
Kontribusi Mitra Rumah Pangan Capai 80 Persen
Pencius menyampaikan terima kasih kepada rumah pangan yang telah berkontribusi menyalurkan SPHP. Menurutnya, capaian tersebut tidak terlepas dari kerja sama dengan para mitra Bulog di Kabupaten Natuna.
"Kita ucapkan terima kasih kepada rumah pangan kita (RPK) atau mitra yang telah berkontribusi menyalurkan SPHP," katanya.
Selain melalui mitra, penyaluran juga digelar lewat gerakan pangan murah dan operasi pasar murah yang menyasar warga di sejumlah titik. Skema itu dipakai untuk menjaga harga beras tetap terjangkau di daerah kepulauan.
Pengadaan Beras Nasional Tembus 4,1 Juta Ton, Tertinggi Sepanjang Sejarah
Perum Bulog juga mencatat sejarah baru pengadaan beras nasional dengan realisasi mencapai 4.115.014 ton setara beras atau 102,88 persen dari target pemerintah sekitar 4 juta ton hingga 8 Oktober 2026. Capaian itu merupakan angka tertinggi sepanjang berdirinya Perum Bulog.
Realisasi tersebut melampaui capaian 2025 sebesar 3,19 juta ton dan rekor sebelumnya pada 2012 sebesar 3,65 juta ton. Pencius menegaskan keberhasilan ini mencerminkan komitmen Bulog dalam menyerap hasil panen petani, memperkuat Cadangan Beras Pemerintah (CBP), serta menjaga ketahanan pangan nasional.
Pengadaan dilakukan melalui jaringan Bulog di berbagai sentra produksi dengan melibatkan petani, kelompok tani, mitra penggilingan, dan pemangku kepentingan terkait.
Natuna Tak Lakukan Penyerapan Gabah, Harga di Perbatasan Sudah Tinggi
Di Natuna, Bulog tidak melakukan penyerapan gabah kering karena harga di daerah perbatasan itu sudah tinggi sehingga tidak perlu diserap. Pencius menjelaskan Bulog menyerap gabah kering dari petani di sentra produksi lain dengan harga Rp6.500 per kilogram.
Angka tersebut merupakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk Gabah Kering Panen (GKP) saat ini. Menurutnya, penyerapan hasil produksi pertanian merupakan upaya memberikan kepastian pasar bagi petani.
"Penyerapan hasil produksi pertanian merupakan upaya untuk memberikan kepastian pasar bagi petani yang diharapkan dapat mendukung keberlangsungan usaha pertanian dan meningkatkan kesejahteraan petani," katanya.
Informasi capaian pengadaan nasional itu diperoleh Pencius dalam pertemuan daring dengan jajaran Perum Bulog pusat pada Jumat (9/10). Bulog memperkirakan penyaluran SPHP di Natuna masih akan bertambah hingga akhir 2026 seiring kebutuhan pangan warga di wilayah kepulauan.