KEPULAUAN RIAU — Subholding Integrated Marine Logistics (SH IML) Pertamina meninjau operasional Terminal Khusus (Tersus) Merauke, Papua Selatan, guna memastikan keandalan layanan kepelabuhanan dan kelancaran distribusi energi di wilayah timur Indonesia. Peninjauan ini menjadi bagian dari penguatan keselamatan fasilitas yang menopang ketahanan energi nasional. Koordinasi lintas entitas dinilai krusial agar pasokan minyak dan gas bumi tetap berjalan tanpa hambatan.
Kunjungan kerja tersebut melibatkan sejumlah petinggi anak usaha Pertamina. Rombongan dipimpin Komisaris Utama PT Pertamina International Shipping (PIS) Anwar Saadi, didampingi Komisaris PIS Lina Santi, Komisaris Utama PT Pertamina Trans Kontinental (PTK) Subagjo Hari Moeljanto, Direktur Operasi PTK Yudi Wibisono, serta Direktur Armada PTK Dewi Susanti.
Mereka meninjau langsung kondisi fasilitas dan kesiapan layanan maritim terintegrasi di Tersus Merauke, yang berada di kawasan Fuel Terminal (FT) Merauke milik PT Pertamina Patra Niaga (PPN). Peninjauan menyoroti kesiapan sarana sandar kapal pengangkut energi hingga kesesuaian prosedur operasi dengan standar yang berlaku.
Peran PTK di Terminal Khusus Merauke
PTK menjalankan layanan kepelabuhanan di Tersus Merauke, termasuk membantu proses sandar kapal pengangkut energi. Aktivitas itu menopang distribusi minyak dan gas bumi sekaligus memastikan operasional mematuhi regulasi dan mengacu pada praktik terbaik global.
Menurut Subagjo Hari Moeljanto, operasional PTK tidak bisa dipisahkan dari aktivitas FT Merauke. Karena itu, koordinasi antarentitas Pertamina diperlukan untuk menjaga kelancaran proses operasional dan memastikan layanan distribusi energi berjalan optimal.
Kolaborasi ONE Pertamina Jadi Kunci
Anwar Saadi menegaskan bahwa kegiatan operasi yang saling terintegrasi antarentitas mencerminkan kolaborasi kuat sebagai ONE Pertamina. "Kegiatan operasi yang saling terintegrasi antarentitas ini mewujudkan kolaborasi yang kuat sebagai ONE Pertamina. Kunjungan kerja ini diharapkan memperkokoh kolaborasi tersebut dan mendorong optimalisasi operasi, dengan senantiasa memprioritaskan aspek keamanan dan keselamatan," ujarnya dalam keterangan pers, Jumat (9/10/2026).
Penekanan pada aspek keamanan dan keselamatan menjadi relevan mengingat Tersus Merauke melayani wilayah timur Indonesia yang secara geografis menantang. Pasokan energi ke kawasan itu bergantung pada kelancaran rantai logistik maritim, mulai dari kapal pengangkut hingga fasilitas penyimpanan di darat.
Dampak ke Pasokan Energi Wilayah Timur
Bagi masyarakat Papua Selatan dan sekitarnya, kelancaran operasi Tersus Merauke menentukan ketersediaan bahan bakar untuk transportasi, pembangkit listrik, hingga aktivitas ekonomi harian. Gangguan sekecil apa pun pada proses sandar kapal bisa berdampak berantai pada stok energi di wilayah tersebut.
Sinergi antara PIS, PTK, dan PPN dalam satu ekosistem Pertamina menjadi model pengelolaan logistik energi yang terpadu. Setiap entitas memegang peran berbeda, namun saling bergantung: PIS pada sisi pelayaran, PTK pada layanan kepelabuhanan, dan PPN pada pengelolaan terminal bahan bakar.
Peninjauan semacam ini juga menjadi sinyal bahwa Pertamina menjaga standar operasional fasilitas strategisnya di kawasan terpencil. Dengan begitu, keandalan pasokan energi di wilayah timur Indonesia tidak hanya bergantung pada ketersediaan stok, tetapi juga pada kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia yang mengoperasikannya.