KEPULAUAN RIAU — Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Said Abdullah, menegaskan turnamen ini bukan sekadar ajang olahraga, melainkan bagian dari pembangunan karakter bangsa. "Soekarno Cup bukan sekadar ajang sepak bola, namun juga cara kami ikut terlibat membangun karakter bangsa," ujarnya. Seleksi Lima Region dan Target Pertahankan Trofi
Proses seleksi pemain untuk Tim Jatim terbagi dalam lima region: Surabaya, Bangkalan, Malang, Blitar, dan Banyuwangi. Dari 1.615 pendaftar, manajemen dan pelatih akhirnya memilih 25 pemain yang kini telah menjalani pemusatan latihan (TC) selama dua bulan.
Kesiapan skuad diuji melalui serangkaian laga uji coba melawan akademi klub profesional. "Tim Jawa Timur telah menjalani pemusatan latihan selama dua bulan dan melakukan uji coba pertandingan dengan berbagai tim, seperti Persebaya Future Lab, Gresik United Academy, dan Deltras Academy," kata Said.
Turnamen tahun ini menjadi misi balas dendam sekaligus pembuktian bagi tuan rumah. Pada edisi 2025 di Bali, Tim Jatim keluar sebagai juara dan membawa piala bergilir ke Surabaya. Kini, status juara bertahan harus dipertahankan di hadapan publik sendiri. Arena Pertandingan dan Mekanisme Kompetisi
Seluruh laga Soekarno Cup 2026 akan menggunakan empat stadion, yakni Gelora 10 November, Gelora Bung Tomo, dan Lapangan Thor di Surabaya, serta Gelora Joko Samudro di Gresik. Mekanisme penyisihan memakai sistem grup yang terdiri dari empat grup, dengan dua tim terbaik masing-masing grup melaju ke babak delapan besar.
Selain memperebutkan trofi juara, turnamen ini menyediakan sejumlah penghargaan individu. "Ada pula penghargaan Top Score, kiper terbaik, dan pelatih terbaik," tutur Said. Penentuan Man of the Match setiap pertandingan akan dilakukan oleh Tim PSSI Jawa Timur, dengan mekanisme yang disebut menyerupai Piala Dunia. Inovasi Wasit Perempuan dan Keterlibatan Seniman
Salah satu pembeda kompetisi ini adalah keterbukaan bagi wasit perempuan untuk memimpin pertandingan. Said menyebut langkah ini sebagai wujud kesadaran gender dalam sepak bola nasional. "Tampilnya wasit perempuan sebagai bentuk gender awareness kami. Banyak wasit perempuan yang hebat, dan mereka harus diberikan tiket untuk mengawal jalannya pertandingan agar fair play," jelasnya.
Pembukaan turnamen pada 10 Agustus 2026 direncanakan lebih meriah dengan penyalaan obor sebagai simbol semangat kemerdekaan dan prestasi. Acara juga akan diisi defile kontingen serta penampilan 300 seniman tradisional. Rencananya, Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, hadir pada acara penutupan untuk menyerahkan trofi juara. Membangun Jati Diri dan Fondasi Sepak Bola Profesional
Said menekankan bahwa pengembangan sepak bola tidak berhenti pada kemampuan teknis di lapangan. PDI Perjuangan Jatim menargetkan pembentukan mental dan pengenalan nilai sejarah kepada para atlet muda. "Mereka bisa mahir main bola, tetapi juga punya jati diri yang kuat, mengenal karakter para founding father, seperti Bung Karno," ujarnya.
Ia optimistis kompetisi berjenjang seperti ini akan mengasah kemampuan pesepak bola muda Indonesia. Ke depan, pihaknya membuka peluang membentuk skuad profesional. "Tentu kami punya harapan, PDI Perjuangan memiliki skuad tim bola profesional dan bisa ikut berlaga di kompetisi profesional. Namun prioritas awal ini mengasah dan mendapatkan banyak talenta, agar bisa membentuk skuad Banteng Muda yang tangguh dan profesional," pungkasnya.
Enam belas tim yang bertanding berasal dari provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, DIY, Jawa Barat, Banten, DKI Jakarta, Bali, Papua, Papua Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Maluku, Jambi, dan Sumatra Utara.