Pencarian

MUI Kecam Promosi Miras Lewat Challenge Hafalan Surah Ad-Duha, Panitia Festival Musik Minta Maaf

Selasa, 11 Agustus 2026 • 11:18:01 WIB
MUI Kecam Promosi Miras Lewat Challenge Hafalan Surah Ad-Duha, Panitia Festival Musik Minta Maaf
MUI mengecam promosi miras melalui tantangan hafalan Surah Ad-Duha dalam festival musik di Kepulauan Riau.

KEPULAUAN RIAU — Kecaman itu disampaikan menyusul beredarnya video yang memperlihatkan seorang MC di panggung festival menawarkan hadiah miras kepada pengunjung yang mampu menghafalkan Surah Ad-Duha. Aksi tersebut dinilai mencampuradukkan nilai sakral agama dengan promosi barang yang diharamkan, sehingga dinilai mencederai kesucian Alquran.

Mengapa Aksi Ini Dianggap Melewati Batas

MUI menilai tantangan tersebut bukan sekadar salah komunikasi, melainkan bentuk pelecehan terhadap kitab suci. Hafalan Alquran seharusnya menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah, bukan dijadikan alat untuk mendapatkan alkohol.

"Ini bentuk penghinaan terhadap Alquran. Menghafal ayat suci itu ibadah, kok diiming-imingi miras? Ini jelas tidak bisa ditoleransi," tegas Sekretaris Komisi Fatwa MUI, KH Miftahul Huda, saat dimintai konfirmasi, Selasa (18/3).

Kronologi dan Permintaan Maaf Penyelenggara

Pihak penyelenggara The Sound Project akhirnya angkat bicara. Mereka menyampaikan permintaan maaf resmi dan mengakui bahwa segmen tersebut adalah bentuk improvisasi MC di lapangan yang di luar skenario acara.

Manajemen festival menyatakan bahwa kejadian ini merupakan kelalaian serius dan tidak akan terulang. Mereka juga menyebut telah memberikan sanksi internal kepada MC yang bersangkutan.

"Kami mengakui bahwa ini adalah kesalahan fatal dan memohon maaf sebesar-besarnya kepada MUI, umat Islam, dan seluruh masyarakat Indonesia. Kami tidak punya niat sedikit pun melecehkan Alquran," ujar perwakilan panitia dalam rilis resminya.

Peringatan Keras untuk Industri Event Musik

MUI tidak hanya menyoroti pihak penyelenggara, tetapi juga memberikan peringatan keras kepada seluruh industri event musik di Indonesia. Mereka meminta para panitia lebih ketat mengawasi jalannya acara, terutama yang melibatkan unsur keagamaan.

Menurut MUI, insiden seperti ini rentan terjadi ketika panitia mengabaikan standar etika dan moral dalam berpromosi. Kompetisi untuk menarik penonton tidak boleh mengorbankan nilai-nilai agama demi konten yang viral.

"Ini pelajaran bagi semua. Jangan pernah menjadikan ayat suci sebagai bahan lelucon atau hadiah untuk hal yang haram. Kami akan terus mengawal persoalan ini," tambah KH Miftahul Huda.

Respons Netizen dan Tekanan Publik

Di media sosial, kemarahan publik nyaris seragam. Tagar terkait boikot festival tersebut sempat menghiasi lini masa. Banyak warganet yang menuntut pihak berwenang memberikan sanksi tegas kepada penyelenggara, bukan sekadar permintaan maaf.

Sejumlah tokoh publik juga ikut angkat bicara. Mereka menilai bahwa standar pengamanan acara musik di Indonesia harus diperketat, terutama dalam hal konten yang disampaikan di atas panggung.

Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan penistaan agama ini. Namun, MUI mendesak agar aparat penegak hukum segera mengusut tuntas jika ada laporan resmi yang masuk.

Follow www.batamvoice.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks