BATAM — Wacana menghidupkan kembali lembaga promosi pariwisata di Kota Batam mulai menemukan titik terang. Sejumlah organisasi pariwisata sepakat mendorong pembentukan BTPB dengan formasi kepengurusan baru, yang diharapkan mampu menyatukan seluruh elemen industri dalam satu wadah kolaborasi.
Diskusi yang mempertemukan pelaku usaha, akademisi, dan insan media itu menghasilkan kesepakatan bahwa Batam membutuhkan strategi promosi terpadu. Posisi geografis kota ini yang berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia menuntut pendekatan yang berbeda dibandingkan daerah lain.
Mengapa BTPB Kembali Dibentuk?
Pembentukan BTPB merupakan respons atas perubahan regulasi. Keberadaan Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) tidak lagi diatur setelah terbitnya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2025 tentang Kepariwisataan.
Pendiri Asosiasi Pariwisata Bahari Indonesia (ASPABRI), Surya Wijaya, menegaskan bahwa meski regulasi berubah, kebutuhan akan wadah kolaborasi tetap ada.
“Walaupun regulasinya berubah, Batam tetap membutuhkan wadah yang mampu menyatukan seluruh pemangku kepentingan pariwisata. Posisi Batam yang berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia membutuhkan strategi promosi yang kuat, terarah, dan berkelanjutan,” ujar Surya dalam forum tersebut.
Formasi Baru: Lebih Profesional dan Berorientasi Hasil
Pembentukan New BTPB tidak sekadar menghidupkan organisasi lama. Surya menekankan bahwa lembaga ini harus dibangun dengan fondasi yang lebih profesional dan adaptif terhadap perubahan industri.
“Kami ingin memberikan kesempatan kepada orang-orang yang benar-benar mau bekerja dan memiliki komitmen membangun pariwisata Batam,” tegasnya.
Struktur kepengurusan baru diharapkan memberi ruang bagi pelaku industri yang selama ini belum pernah terlibat. Regenerasi ini dinilai penting untuk melahirkan inovasi dan semangat baru dalam mempromosikan destinasi Batam.
ASITA di Pucuk Pimpinan, Kolaborasi Lintas Organisasi Jadi Kunci
Ketua DPD ASITA Kepri Eva Betty disebut akan memimpin formasi baru BTPB. Dukungan datang dari berbagai organisasi seperti PHRI, ASPPI, IPI, ASPABRI, IHGMA, IHKA, Asosiasi Pramuwisata Madani (APM), Perkumpulan Homestay Batam, hingga akademisi dari Batam Tourism Polytechnic (BTP).
Kolaborasi lintas organisasi ini dinilai menjadi kekuatan utama dalam menjalankan promosi pariwisata. Sinergi dengan Pemerintah Kota Batam juga menjadi faktor penting untuk mempercepat realisasi berbagai program strategis sektor pariwisata.
“Dengan kekuatan kolaborasi tersebut, saya yakin target menjadikan Batam sebagai destinasi wisata nomor satu di Indonesia akan semakin mudah diwujudkan. Jika seluruh pelaku industri dan stakeholder bergerak bersama, Batam akan semakin kuat sebagai destinasi unggulan di kawasan KEJORA serta mampu bersaing di tingkat regional maupun internasional,” tutup Surya.