KEPULAUAN RIAU — Penguatan rupiah terjadi di tengah tekanan luas terhadap dolar AS di pasar global. Data Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) yang dirilis semalam menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan di AS di bawah perkiraan analis, memperkuat sinyal pelonggaran pasar tenaga kerja dan meredupkan daya tarik dolar.
Sentimen positif juga datang dari laporan progres negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Kabar bahwa kedua negara hampir mencapai kesepakatan membuka peluang normalisasi jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang selama ini menjadi titik rawan gangguan pasokan energi global.
Data PDB Kuartal II-2026 Jadi Penentu Arah Selanjutnya
Kendati perkasa, ruang penguatan rupiah dinilai masih terbatas. Pelaku pasar cenderung menahan diri menanti rilis data produk domestik bruto (PDB) Indonesia kuartal II-2026 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) siang ini. Angka pertumbuhan ekonomi tersebut akan menjadi cermin fundamental domestik di tengah ketidakpastian eksternal.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan rilis data PDB berpotensi menjadi katalis utama pergerakan rupiah pada sesi berikutnya. Jika data menunjukkan ekspansi yang solid, ruang penguatan rupiah bisa terbuka lebih lebar. Sebaliknya, hasil yang mengecewakan berisiko menahan laju penguatan.
"Rupiah diperkirakan menguat terhadap dolar AS yang tertekan oleh data JOLTS AS yang lebih lemah dari perkiraan dan optimisme pembukaan kembali Selat Hormuz setelah muncul laporan bahwa AS dan Iran hampir mencapai kesepakatan," kata Lukman kepada Katadata, Rabu (5/8).
Kisaran Perdagangan dan Level Psikologis
Dari sisi teknikal, Lukman memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif pada rentang Rp 17.900 hingga Rp 18.050 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini. Level psikologis di bawah Rp 18.000 menjadi area krusial yang akan diuji pasar.
Pantauan Bloomberg menunjukkan kurs rupiah membuka perdagangan pagi ini di posisi Rp 17.992 per dolar AS, atau menguat 0,20% (45 poin) dibandingkan penutupan sebelumnya. Pada perdagangan Selasa (4/8), rupiah sempat ditutup melemah 0,17% ke level Rp 18.027 per dolar AS.
Sepanjang pekan ini, pergerakan rupiah masih sangat dipengaruhi oleh sentimen eksternal, terutama arah kebijakan moneter AS dan dinamika harga minyak global. Investor disarankan mencermati perkembangan negosiasi AS-Iran serta data ekonomi domestik yang akan dirilis siang ini.
Investasi mengandung risiko.