TANJUNGPINANG — Secangkir kopi dengan harga Rp 10 ribu kini menjadi pemandangan umum di Pulau Bintan. Kemunculan puluhan gerobak kopi dalam beberapa bulan terakhir tidak hanya menawarkan alternatif menikmati kopi yang lebih murah, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga setempat.
Herri Wijaya merupakan salah satu nama yang berada di balik geliat usaha ini. Keputusan berani diambilnya dengan meninggalkan status sebagai pegawai honorer di sebuah rumah sakit demi fokus merintis bisnis KopiWay ID.
Untuk memulai usahanya, Herri mengaku menjual mobil pribadinya. Langkah ini diambilnya sebagai bentuk komitmen serius terhadap bisnis kopi gerobak yang dinilainya memiliki prospek menjanjikan di Kepulauan Riau.
“Saya melihat potensi pasar yang besar karena masyarakat di sini memang dekat dengan budaya ngopi,” ujarnya saat ditemui di kedainya.
Pertumbuhan kopi gerobak tidak hanya mengubah cara pandang masyarakat terhadap harga secangkir kopi, tetapi juga berkontribusi pada penyerapan tenaga kerja. Model usaha yang sederhana dan modal relatif ringan dinilai menjadi pintu masuk bagi banyak orang untuk berwirausaha.
Fenomena ini menjadi angin segar di tengah lesunya sektor usaha lain. Kehadiran gerobak-gerobak kopi di pinggir jalan, perkantoran, hingga area permukiman turut menggerakkan ekonomi mikro di Tanjungpinang dan Bintan.
Meski tumbuh pesat, bisnis ini bukannya tanpa tantangan. Persaingan antar pedagang semakin ketat seiring menjamurnya pemain baru di lokasi yang sama. Para pelaku usaha dituntut untuk terus berinovasi dalam hal rasa, pelayanan, dan strategi pemasaran agar konsumen tidak berpaling ke kedai lain.
Ke depan, keberlanjutan tren ini akan sangat bergantung pada kemampuan para peracik kopi menjaga kualitas dan membangun loyalitas pelanggan di tengah gempuran bisnis serupa.