TANJUNGPINANG — Tujuh nelayan asal Kepulauan Riau (Kepri) kini berada dalam pendampingan otoritas Malaysia setelah kapal mereka diduga hanyut hingga memasuki perairan Sarawak. Kepala Badan Pengelolaan Perbatasan Daerah (BP2D) Kepri, Doli Boniara, membenarkan penangkapan tersebut terjadi dalam dua gelombang yang berbeda waktu.
Kelompok pertama berjumlah lima orang, yakni Ocep asal Tanjungpinang, Suherman asal Lingga, Safarudin asal Bintan, serta Kamisa dan M. Yusni dari Kabupaten Kepulauan Anambas. Adapun kelompok kedua terdiri dari dua nelayan, yaitu Suhardiy asal Natuna dan Kamaruzaman yang juga berasal dari Kabupaten Kepulauan Anambas.
Doli Boniara menyampaikan, pihaknya masih menelusuri penyebab pasti penangkapan tersebut. Namun, berdasarkan informasi awal yang diterima, kapal para nelayan diduga terbawa arus dan angin setelah jangkar kapal tidak berfungsi.
"Dari informasi yang kami peroleh, jangkar kapal mereka tidak berfungsi sehingga kapal terbawa arus dan angin hingga masuk ke perairan Sarawak," ujarnya, Jumat (31/7).
BP2D Kepri saat ini terus berkoordinasi dengan berbagai instansi terkait guna memastikan kondisi para nelayan. Hingga kini, titik lokasi penahanan mereka belum diketahui secara pasti.
"Untuk titik lokasi penahanannya kami masih belum mendapatkan informasi. Saat ini kami terus berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait," tutup Doli.
Peristiwa ini menjadi pengingat bagi nelayan yang kerap beroperasi di perairan perbatasan Indonesia-Malaysia untuk memastikan kelayakan kapal, terutama fungsi peralatan navigasi dan jangkar, sebelum melaut. Wilayah perairan Sarawak yang berbatasan langsung dengan sejumlah kabupaten di Kepri memang rawan menjadi area hanyutnya kapal nelayan akibat cuaca dan arus laut.