KEPULAUAN RIAU — Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan hilirisasi saja tidak cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, seraya menyoroti lonjakan ekspor nikel dari US$1,3 miliar pada 2016 menjadi US$34 miliar pada 2025. Pemerintah menargetkan kontribusi industri pengolahan kembali di atas 20 persen terhadap PDB, naik dari posisi 18,50 persen saat ini.
Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi 5,45 persen pada Semester I-2026 di tengah ketidakpastian global. Airlangga Hartarto menilai capaian itu belum cukup. Menurutnya, strategi hilirisasi yang selama ini menjadi andalan perlu dilengkapi dengan industrialisasi yang lebih luas.
"Hilirisasi tidak sama dengan industrialisasi. Hilirisasi salah satu daripada industri," kata Airlangga dalam sebuah forum di Jakarta, Selasa (6/10).
Industri Pengolahan Masih Jadi Tulang Punggung
Industri pengolahan menyumbang 18,50 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Sektor nonmigas tumbuh 5,32 persen, sementara Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur kembali ekspansi ke level 52,4 pada September 2026 — tertinggi sejak Februari.
Meski begitu, Airlangga ingin kontribusi industri kembali menembus 20 persen. Caranya bukan hanya mengandalkan hilirisasi tambang, tetapi juga menggenjot sektor otomotif, tekstil dan produk tekstil (TPT), serta fast moving consumer goods (FMCG).
Nikel Jadi Bukti Hilirisasi Berjalan
Hilirisasi tetap menjadi senjata utama. Ekspor nikel melonjak dari US$1,3 miliar pada 2016 menjadi US$34 miliar pada 2025. Lonjakan serupa diharapkan terjadi pada komoditas pertanian seperti sawit, karet, kelapa, dan perikanan.
Dalam peta jalan 28 komoditas, hilirisasi diproyeksi mendatangkan investasi US$618,1 miliar, ekspor US$857,6 miliar, dan nilai tambah US$235,9 miliar. Dampak pemerataannya terlihat dari 75,7 persen investasi hilirisasi pada Semester I-2026 yang sudah berada di luar Jawa.
Lompatan Berikutnya: Semikonduktor hingga AI
Pemerintah menyiapkan lompatan berikutnya ke agroindustri bernilai tinggi, semikonduktor, kecerdasan buatan (AI), dan data center. Indonesia disebut punya modal berupa lahan, energi hijau, dan air yang kompetitif.
Ekonomi digital ASEAN melalui kesepakatan DEFA diprediksi naik dari US$1 triliun menjadi US$2 triliun. Indonesia menguasai 40 persen di antaranya.
"Transformasi ekonomi Indonesia perlu dilanjutkan dari pertanian menuju industri, kemudian menuju digitalisasi dan jasa bernilai tambah tinggi," ujar Airlangga.
Pemerintah menilai transformasi itu menjadi kunci membuka peluang pertumbuhan ekonomi 8 persen. Bagi pelaku usaha, arah kebijakan ini menandakan insentif dan perhatian bakal bergeser ke sektor padat karya non-tambang yang selama ini tertinggal dari booming nikel.