Telkom dan Pemkot Kupang Gelar Pelatihan AI untuk Guru, 40 Sekolah Terima Komputer Baru

Penulis: Ridwan Azhari  •  Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:54:01 WIB
Para guru mengikuti pelatihan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) yang digelar Telkom bersama Pemkot Kupang.

KEPULAUAN RIAU — Kupang menjadi salah satu daerah yang mendapat perhatian khusus dalam pemerataan teknologi pendidikan. Telkom tidak hanya menyerahkan perangkat keras, tetapi juga memastikan para pengajar mampu memanfaatkan teknologi tersebut secara optimal dalam kegiatan belajar-mengajar sehari-hari.

"Program ini bagus sekali karena kita sedang berinvestasi pada manusia. Dibagi ke 40 sekolah dan pelatihannya juga diberikan, sehingga kemampuan mengajar guru meningkat dan kemampuan belajar murid juga meningkat," ujar Christian Widodo di Kupang, Senin.

AI sebagai Alat Bantu, Bukan Pengganti Guru

Di tengah kekhawatiran global tentang otomatisasi yang menggantikan pekerjaan manusia, Wali Kota Kupang memberikan perspektif berbeda. Ia menekankan bahwa posisi guru sebagai pendidik tidak akan pernah tergantikan oleh mesin.

"Guru harus menguasai AI, bukan AI yang menguasai guru. Karena mendidik dengan hati itu tidak bisa digantikan oleh AI," tegasnya.

Christian meyakini penguasaan teknologi oleh tenaga pendidik akan berdampak langsung pada kualitas sumber daya manusia di masa depan. "Ini menjadi alat bagi para guru untuk meningkatkan kemampuan mengajarnya, sehingga nanti akan lahir pemimpin, dokter, hingga ASN yang hebat," katanya.

Data UNESCO: AI Kurangi Beban Administrasi Guru Hingga 30 Persen

Manajer General Support Divisi Regional III PT Telkom Indonesia, Nugroho Adi Sucoyo, memaparkan data yang mendasari program ini. Berdasarkan riset UNESCO, penerapan AI di sektor pendidikan terbukti memberikan dampak terukur terhadap kualitas pembelajaran.

"Berdasarkan data UNESCO, AI dapat mengurangi stres belajar 40 persen, menekan beban administrasi guru 30 persen, dan meningkatkan kemampuan siswa 25 persen," ungkap Nugroho.

Ia menjelaskan bahwa program ini merupakan wujud komitmen keberlanjutan perusahaan melalui skema Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Bagi Telkom, kolaborasi pentahelix menjadi kunci agar inisiatif ini tidak berhenti sebagai proyek sesaat.

"Harapannya program ini tidak hanya satu kali, tetapi memiliki keberlanjutan dan memberi dampak nyata bagi ekosistem pendidikan," tambahnya.

Tantangan Infrastruktur dan Komitmen Perluasan Jaringan

Meski program berjalan lancar, Wali Kota Kupang tidak menutup mata terhadap hambatan di lapangan. Keterbatasan anggaran daerah dan kesiapan ruangan menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan secara bertahap.

"Tantangan kita adalah efisiensi dan kemampuan keuangan daerah. Jangan sampai kita hadirkan komputer, tetapi ruangannya belum siap. Kebutuhan dasar harus dipenuhi terlebih dahulu," ujar Christian.

Pemkot Kupang mengandalkan skema kolaborasi untuk menutup celah pembiayaan tersebut. "Kalau masih ada kekurangan infrastruktur, kita kolaborasi. Ada dari APBD, ada juga bantuan seperti dari PT Telkom," katanya.

Sementara itu, Telkom menyatakan komitmennya untuk terus memperluas konektivitas digital hingga ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Langkah ini dinilai krusial untuk mendukung pengembangan sumber daya manusia di era transformasi digital, memastikan daerah seperti Kupang tidak tertinggal dari pusat pertumbuhan ekonomi nasional.

Reporter: Ridwan Azhari
Sumber: kupang.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top