Outrage Economy: Saat Kemarahan Publik Jadi Bisnis di Media Sosial

Penulis: Mahsyar Hamdani  •  Kamis, 08 Oktober 2026 | 13:22:31 WIB
Praktisi komunikasi digital Renaldy Pujiansyah membahas fenomena outrage economy dalam pernyataan yang disiapkan untuk media.

KEPULAUAN RIAU — Fenomena outrage economy atau ekonomi kemarahan makin terasa di media sosial Indonesia, di mana kontroversi dan reaksi emosional berubah menjadi perhatian yang bernilai rupiah. Praktisi komunikasi digital Renaldy Pujiansyah membahas bagaimana sistem monetisasi platform bisa memicu kreator memanfaatkan isu sensitif untuk mendulang interaksi.

Perhatian publik kini punya harga. Setiap perdebatan di kolom komentar, setiap unggahan yang memicu kemarahan, semuanya bisa dikonversi menjadi angka dan penghasilan bagi sebagian pihak. Praktisi komunikasi digital Renaldy Pujiansyah menyoroti hal ini sebagai fenomena yang semakin relevan dengan perkembangan media sosial di Indonesia.

Menurut Renaldy, industri konten digital memang membuka peluang ekonomi baru. Namun di sisi lain, sistem monetisasi platform menciptakan insentif bagi sebagian kreator untuk terus mengangkat isu kontroversial demi mengejar perhatian dan interaksi.

"Sekarang perhatian publik punya nilai ekonomi. Satu masalah bisa menjadi banyak konten, mengundang perdebatan, bahkan berpotensi menjadi sumber penghasilan. Kita perlu memahami bagaimana sistem ini bekerja agar tidak mudah terbawa emosi," ujar Renaldy dalam pernyataan yang disiapkan untuk media.

Apa Itu Outrage Economy?

Outrage economy atau ekonomi kemarahan adalah kondisi di mana kemarahan publik diubah menjadi komoditas. Platform digital mendapat keuntungan dari waktu yang dihabiskan pengguna, sementara kreator konten mendapat penghasilan dari tingginya interaksi.

Semakin provokatif sebuah konten, semakin besar kemungkinan ia viral. Inilah yang membuat sebagian pihak terjebak dalam siklus provocasi tanpa henti.

Bukan Fenomena Baru, Sudah Dibahas Sejak 2017

Kolumnis Rafael Behr melalui media Inggris The Guardian pada 2017 mengulas bagaimana siklus provokasi dan kemarahan menjadi bagian dari dinamika bisnis media digital. Saat itu, konteksnya adalah politik Amerika Serikat.

Penelitian Yale University pada 2021 memperkuat temuan ini. Respons sosial terhadap ekspresi kemarahan terbukti mendorong pengguna mengulangi perilaku serupa di media sosial. Artinya, kemarahan menular dan menciptakan lingkaran yang sulit diputus.

Bagaimana Wujudnya di Indonesia?

Di Indonesia, dinamika ekonomi perhatian terlihat dari beberapa fenomena. Akun centang biru atau cenblu di platform X kerap memanfaatkan isu populer untuk menarik interaksi. Konten affiliate clickbait juga memakai cara serupa sebelum mengarahkan pengguna ke tautan produk.

Pola ini bukan kebetulan. Sistem algoritma platform cenderung menampilkan konten yang memicu reaksi emosional kuat, karena itulah yang membuat pengguna betah berlama-lama di aplikasi.

Dampak bagi Keluarga dan Anak

Bagi orang tua, fenomena ini punya implikasi nyata. Anak-anak dan remaja yang menghabiskan waktu di media sosial rentan terpapar konten provokatif yang belum tentu sesuai usia mereka.

Orang tua perlu memahami cara kerja algoritma dan sistem monetisasi agar bisa mendampingi anak dengan lebih baik. Literasi digital bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan dasar.

Kapan Harus Lebih Waspada?

Ada beberapa tanda yang perlu diperhatikan. Jika anak tiba-tiba sering marah setelah bermain media sosial, atau membicarakan isu kontroversial yang tidak sesuai usianya, itu bisa jadi sinyal bahaya.

Begitu pula jika anak mulai meniru gaya bahasa provokatif dari konten yang mereka tonton. Segera ajak bicara dan batasi paparan konten yang tidak sesuai.

Cara Bijak Menyikapi Ekonomi Kemarahan

Pertama, kenali pola konten yang sengaja memicu emosi. Jika sebuah unggahan terasa terlalu provokatif, tanyakan dulu apa tujuan di baliknya.

Kedua, batasi konsumsi konten yang membuat marah. Algoritma akan terus menyajikan hal serupa jika kita terus berinteraksi dengannya.

Ketiga, ajarkan anak untuk berpikir kritis. Tanyakan pendapat mereka sebelum memberi tanggapan, dan bantu mereka memahami bahwa tidak semua yang viral itu benar atau penting.

Memahami cara kerja ekonomi perhatian membuat kita lebih sulit dimanipulasi. Kemarahan boleh ada, tapi jangan sampai ia menjadi komoditas yang menguntungkan pihak lain sementara kita hanya lelah dan terpecah belah.

Reporter: Mahsyar Hamdani
Sumber: lifestyle.sindonews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top